Sesotoy-sotoynya manusia,
Sesombong-sombongnya manusia,
Sekaya-kayanya manusia,
Tetap harus tau dan sadar akan sebuah kematian yang siap menjemputnya
Dari dunia ke alam lain yang akan membuktikan sebuah keadilan..
Dan kali ini, saya di skakmat.
Saya justru tidak bisa menghadiri pemakaman pakde saya sendiri, karena ukuran jarak rupanya yang untuk saat ini, saya belum dapat mentolerir.
Solo-Samarinda.
Baru seminggu yang lalu rasanya kami berkumpul bersama, dalam sebuah suasana duka saat mengantar kepergian mbah putri. Dan rupanya itulah momen terakhir saya bertemu sosok yang senantiasa bersemangat dan hangat pada siapa saja, sebelum akhirnya pakde pun pergi untuk menyusul mbah putri.
Kaget.
Sangat kaget. Karena setau saya, tidak ada penyakit yang bernaung dalam raga sehatnya. Dan saya pun baru tau, sesaat sebelum beliau meninggal, beliau sedang bersih-bersih di rumah yang sedang beliau bangun.
Kaget dan sedih.
Yah mungkin saya memang bukan keponakan yang terhitung dekat dengan beliau. Bahkan terhitung jauh.Tapi momen yang pernah saya lewati dengan beliau adalah momen-momen bahagia dan indah yang saya lewati.
Di usianya yang sudah masuk usia senja, saya melihat ada cinta yang begitu besar, yang masih menyala dalam dirinya. Cinta untuk istri dan keluarganya. Sama seperti bapak pada ibu. Tidak segan menunjukkan tanda cinta pada istri tercinta di depan umum sekalipun. Pernah sekali saya bertamasya dengan pakde bude dan bapak ibu. Kebetulan, saat itu “anak kecil” yang ikut hanya saya saja, karena adik saya sedang sekolah, dan itu saat awal masuk kuliah di UNS. Karena lokasi tamasya kami jalanannya menanjak, pakde menggandeng tangan budhe yang tampak kelelahan menaiki jalan yang kami lewati. Bergandengan tangan, dan merangkul budhe dengan bernyanyi dan bercanda sepanjang jalan.
Benar, kasih sayang di usia senja justru tampak amat merona di mata.
Ah, dimata saya, pakde adalah sosok yang dapat membuat orang disekitarnya nyaman jika bersamanya.
Pakde pun bercerita bagaimana kisah ia pergi merantau ke kalimantan, bagaimana ia memulai karier disana, dan masih banyak kisah kisah indah dan motivasi yang ia berikan pada saya, anak ingusan dengan wajah polos menipu yang baru saja berganti status dari siswa SMA menjadi mahasiswa.
Baru saja minggu lalu, beliau menginisiasi acara keluarga tahunan yang intinya, di acara keluarga yg setiap setaun sekali akan diadakan, kami bisa berkumpul bersama, walaupun tidak di rumah mbah, dan pakde mengusulkan untuk diadakan di rumah beliau terlebih dahulu, di Samarinda.
Qodarullah, Allah selalu punya keputusan dibalik setiap rencana yang manusia rancang. Dan rupanya, kami tidak perlu menunggu acara keluarga tersebut untuk berkumpul..
Selamat jalan, pakde..
Terima kasih atas nasehat dan wejangan yang pernah pakde sampaikan pada seorang Majedha Hayun.
Kami semua menyayangi pakde, seperti pakde menyayangi kami semua..